Modal Nekat Bule Rusia, Jual Mobil Demi Bikin Clandestine Lab Narkoba di Bali

Nekat

dejadream.com – Kisah kejahatan lintas negara kembali bikin geger Pulau Dewata. Kali ini, seorang perempuan warga negara Rusia bernama Natalia Tomberg alias Kseniia Kozina nekat mengambil langkah ekstrem demi menjalankan bisnis haram. Natalia rela menjual mobil pribadinya hanya untuk mengantongi modal terbang ke Bali dan merakit sebuah laboratorium narkotika tersembunyi di kawasan Gianyar.

Read More : Kisah Hasno, Penjual Bakso Ikan Rp 5.000 di Tengah Wisata Ubud Gianyar

Aksi nekat ini akhirnya terbongkar secara gamblang dalam sidang perdananya di Pengadilan Negeri Gianyar pada Rabu, 2 September 2026. Natalia yang tercatat dalam perkara Nomor 134 menjalani persidangan terpisah dengan rekan setimnya, Sergei Trashchenko, yang terseret dalam berkas perkara Nomor 133.

Dari Pesan Telegram Hingga Sewa Vila Mewah di Saba

Penelusuran kasus ini bermula dari tawaran menggiurkan yang mampir ke ponsel Natalia sekitar akhir Desember 2025. Melalui percakapan rahasia di aplikasi Telegram dari akun anonim “KSENIIA” dan “@Ksaliv”, yang saat ini berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO), Natalia diiming-imingi imbalan fantastis mencapai lebih dari 1 juta Rubel Rusia jika bersedia meracik obat-obatan terlarang di Bali.

Tergiur dengan bayaran jumbo tersebut, Natalia langsung menjual mobilnya demi membeli tiket penerbangan dan biaya operasional awal. Begitu mendarat manis di Bali pada 11 Januari 2026, pergerakan bergerilyanya dimulai. Ia menerima kucuran dana tunai secara bertahap dari kurir rahasia. Mulai dari Rp 20 juta untuk belanja bahan kimia awal di e-commerce. Hingga suntikan dana tambahan senilai Rp 55 juta dan Rp 30 juta yang dikirim atas perintah bos besarnya di Telegram.

Dengan dana yang terkumpul, Natalia melancarkan aksinya menyewa Villa The Lavana Deโ€™Bale Marcapada yang berlokasi di Jalan Padat Karya, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Vila berkonflik tenang ini disulap menjadi tempat produksi narkotika jenis mefedron. Agar aktivitas racik-meraciknya tidak terendus warga sekitar maupun staf kebersihan, Natalia mengambil alih kontrol penuh atas properti tersebut:

  • Mengganti seluruh kunci pintu vila secara independen.
  • Memasang dua kamera CCTV tersembunyi untuk memantau situasi luar.
  • Membatasi secara ketat akses masuk para pekerja vila agar dapur rahasianya tetap aman.

Operasi Dapur Haram dan Penyitaan Bahan Kimia Berbahaya

Proses pembuatan mefedron ini tidak dilakukan sendirian. Natalia mengeksekusi resep kimia berdasarkan petunjuk bertahap yang dikirim sang pengendali via Telegram. Sementara itu, rekannya, Sergei Trashchenko, berperan sebagai eksekutor lapangan yang bertugas mengambil paket-paket bahan kimia dari kantor pos maupun layanan ekspedisi lokal untuk diantar langsung ke vila. Setiap satu siklus produksi mefedron membutuhkan waktu pengolahan maraton selama kurang lebih satu minggu.

Namun, sepandai-pandainya menyembunyikan bau cairan kimia, jejak mereka akhirnya tercium oleh aparat BNN. Saat penggerebekan dilakukan, petugas menemukan pemandangan yang menyerupai laboratorium kimia sungguhan di dalam vila mewah tersebut. Sejumlah barang bukti krusial langsung disita oleh tim penyidik, di antaranya:

  • Serbuk dan kristal padat dalam berbagai ukuran, mulai dari padatan putih seberat 471 gram, padatan abu-abu 69 gram, hingga kristal murni puluhan gram.
  • Kontainer berisi cairan cokelat dengan endapan putih sebanyak 4.000 mililiter.
  • Berbagai jeriken dan botol zat kimia berbahaya berkapasitas ratusan mililiter hingga puluhan liter, seperti Dichloromethane, Methylamine, Hydrobromic Acid, serta Ethyl Acetate.

Kini, petualangan Natalia dan Sergei di pulau impian harus berakhir di balik jeruji besi. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan hukum Indonesia.